stop-merokok-01

GadgetLIVE.co.id – Dunia tengah gencar mengkampanyekan perang terhadap rokok. Sayangnya, Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala untuk turut memberantas kebiasaan buruk tersebut. Salah satu masalah terberatnya adalah karena Indonesia tersebut sebagai salah satu produsen tembakau terbesar.

Masyarakat Indonesia akhirnya menjadi lekat sekali dengan tembakau dan rokok. Akhirnya terciptalah stigma bhawa mengisap nikotin adalah hal yang biasa. Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa merokok adalah kebutuhan sebagai keluwesan dalam bergaul.

Pandangan tersebut justru membawa dampak besar bagi para perokok. Mereka menjadi semakin enggan berhenti merokok karena beranggapan akan kehilangan teman-teman bergaul. Mereka merasa kikuk ketika tidak merokok, padahal ia tengah berada di lingkungan yang berisi para perokok.

Tercetuslah bahwa bergaul harus menyesuaikan dengan lingkungan agar dapat diterima dengan baik. Namun, benarkah demikian bila merokok berdampak pada kehidupan sosial seseorang? Benarkah bahwa orang yang merokok akan memiliki kesempatan sempit dalam memeroleh teman dan diterima di lingkungan para perokok?

Merasa Tersisihkan

stop-merokok-03

Megan E. Piper dari Pusat Penelitian dan Intervensi Tembakau, University of Wisconsin-Madison, membenarkan bahwa tidak sedikit perokok yang khawatir akan tersisihkan dari lingkungan pergaulan apabila berhenti merokok.

Kekhawatiran tersebut justru menjadi tembok penghalang untuk orang-orang yang memang ingin berhenti merokok. Hal ini karena mereka terbiasa berada di lingkungan yang didominasi oleh asap rokok. Pemahaman mereka mengenai pergaulan pun terpaku pada lingkungan tersebut.

Mereka khawatir akan disisihkan dan ditinggalkan oleh teman-temannya yang perokok. Mereka takut tidak akan diterima lagi di lingkungan tersebut dan harus mulai mencari teman dari awal karena sudah tidak sama lagi. Dalam hal ini, karena sudah tidak merokok.

Fakta yang ada justru berkebalikan dengan hal tersebut. Perokok yang memutuskan untuk berhenti dari kebiasaan buruknya tersebut justru berpeluang besar untuk memeroleh teman yang lebih banyak. Potensi ini terutama di kalangan para anti asap rokok.

stop-merokok-04

Megan E. Piper dan tim kemudian meneliti pola pergaulan suatu kelompok yang memutuskan untuk berhenti merokok. Hasilnya justru sangat mengejutkan. Orang yang berhenti merokok justru memiliki teman baru lebih banyak. Selain itu, jumlah teman perokok mereka pun menjadi lebih sedikit.

Fakta ini dipicu oleh pergeseran cara pandang masyarakat. Di tengah semangat kampanye antirokok, tembakau dan rokok menjadi semakin terlihat negatif. Hal ini membuat masyarakat berupaya untuk menjauhi barang tersebut.

Bahkan, mereka tidak lagi sungkan untuk menegur orang yang merokok di tempat umum. Kenyamanan publik dijaga ketat dari gangguan asap rokok. Berbagai aturan pelarangan merokok di area publik pun semakin gencar terlihat.

Dengan fenomena tersebut, peluang untuk mencari teman yang bukan perokok justru semakin besar. Dapat dipastikan bahwa beberapa saat lagi jumlah orang yang tidak merokok justru jauh lebih banyak dari para perokok. Jika kalian bukan perokok, teman kalian akan semakin banyak.

Fenomena Antirokok

stop-merokok-05

Fenomena menolak rokok baru terjadi beberapa tahun belakangan. Orang yang tetap merokok justru terlihat “buruk” dan mulai disisihkan dari lingkungan sosial umumnya, sebaliknya, orang yang tidak merokok atau memutuskan berhenti merokok justru diterima di mana saja.

Megan meneliti 691 orang perokok yang sedang berusaha untuk berhenti. Mereka diteliti dari jumlah teman, jumlah teman baru, kebiasaan merokoknya dulu, dan teman yang merokok.

Setelah tiga tahun berjalan, responden diuji secara kimiawi untuk melihat kesuksesan mereka dalam berhenti merokok. Hasil tes dicocokkan dengan kehidupan sosial mereka selama usaha berhenti merokok.

No Smoking Sign on Stop Sign --- Image by © Alan Schein/zefa/Corbis

Hasilnya, responden yang sukses menjauhi rokok memiliki pergeseran pola interaksi sosial. Mereka menjadi jarang berinteraksi dengan perokok aktif. Kehidupan sosial mereka justru menjadi semakin luas setelah berhenti merokok. Mereka pun semakin aktif secara sosial karena mendapat banyak teman dan jejaring baru.

Sebagian masyarakat memang menjadi rokok sebagai landasan dalam membangun sebuah hubungan pertemanan. Namun, perlu diingat bahwa di luar lingkungan tersebut masih banyak lingkungan lain yang bebas dari asap rokok. Peluang untuk masuk ke lingkungan tersebut pun sangat besar.

Tidak ada alasan akan kehilangan teman apabila berhenti merokok. Kalian mungkin memang akan kehilangan beberapa teman perokok. Namun, kalian akan mendapat banyak teman baru yang tidak merokok. Asal ada niat, mengapa harus takut untuk mengakhiri?

LEAVE A REPLY